My Menu

Artikel

Disnakkeswan Mimika Jelaskan Faktor Kenaikan Harga Pakan Babi dan Dorong Pakan Alternatif

28/01/2026 16:58

Disnakkeswan Mimika Jelaskan Faktor Kenaikan Harga Pakan Babi dan Dorong Pakan Alternatif

TIMIKA – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Kabupaten Mimika memberikan penjelasan terkait kenaikan harga pakan ternak babi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di wilayah Mimika. Kenaikan tersebut dipastikan bukan akibat kebijakan daerah, melainkan dipengaruhi oleh kondisi nasional.

Kepala Disnakkeswan Mimika, drh. Sabelina Fitriani, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama kenaikan harga pakan adalah keterbatasan pasokan bahan baku utama, terutama jagung, yang memiliki porsi sekitar 50 persen dalam komposisi pakan ternak babi.

“Kenaikan harga pakan ini dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya keterbatasan pasokan jagung. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Mimika, tetapi juga secara nasional,” ujar drh. Sabelina saat ditemui di Kantor Disnakkeswan Mimika, Rabu (28/1/2026).

Ia menambahkan, selain keterbatasan bahan baku, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut memberi tekanan terhadap harga pakan, mengingat sebagian bahan baku pakan masih harus didatangkan dari luar negeri.

“Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya produksi pakan otomatis meningkat. Ditambah lagi dengan kenaikan biaya ekspedisi atau pengiriman, sehingga berdampak langsung pada harga pakan di tingkat peternak,” jelasnya.

Berdasarkan pemantauan Disnakkeswan Mimika, sejak Oktober 2025 hingga Januari 2026, harga pakan babi di pasaran Mimika mengalami kenaikan sekitar 5 persen. Saat ini, harga pakan babi pabrikan per karung ukuran 50 kilogram berkisar antara Rp470.000 hingga Rp495.000, tergantung jenis dan merek. Meski demikian, masih terdapat beberapa toko pakan yang menjual dengan harga sebelumnya.

Menyikapi kondisi tersebut, Disnakkeswan Mimika terus melakukan edukasi kepada peternak babi agar dapat beradaptasi dengan mendorong pemanfaatan pakan alternatif melalui teknik pencampuran (mixing) bahan baku lokal.

“Peternak dapat mencampur jagung, dedak, dan konsentrat yang ditambahkan asam amino serta mineral. Cara ini sudah kami sosialisasikan dan dinilai lebih efisien dibandingkan sepenuhnya bergantung pada pakan pabrikan,” ungkap drh. Sabelina.

Ia mengakui bahwa tingginya harga dan keterbatasan stok jagung masih menjadi tantangan dalam penerapan pakan alternatif. Namun demikian, metode pencampuran tetap dinilai sebagai solusi jangka menengah untuk membantu menekan biaya pakan.

Disnakkeswan Mimika juga terus memantau kebijakan Pemerintah Pusat, termasuk rencana pemberian subsidi dan penurunan biaya ekspedisi, yang diharapkan dapat membantu menstabilkan harga pakan ternak di daerah.

“Kami mengajak peternak babi untuk terus beradaptasi dan memanfaatkan pendampingan dari pemerintah. Edukasi dan inovasi pakan menjadi kunci agar usaha peternakan babi di Mimika tetap berkelanjutan,” pungkasnya.

Sumber: seputarpapua.com dan fajarpapua.com